Nona Rengganis Pancala. Nama itu lahir dari bibir sang Romo, seiring dengan derasnya hujan yang jatuh tanpa jeda di malam kelahirannya, 12 Oktober 2002. Seperti hujan, ia hadir dengan tenang, tapi membawa arus yang tak bisa ditebak arahnya.

Sejak kecil, ia adalah si cempluk—pipi tembamnya semerah senja yang meleleh di ufuk barat. Tawa polosnya menyelinap di antara bayang-bayang rumah besar yang penuh aturan. Kecintaan pada keindahan tumbuh bersamanya, mengakar dalam caranya menatap dunia. Baginya, estetika bukan sekadar rupa, tetapi rasa. Dan merah, warna yang berani, penuh nyala, menjadi caranya menerjemahkan hidup.

Namun, Nona lahir di keluarga yang menuntut banyak, terlalu banyak. Nama Pancala bukan sekadar kebanggaan, tapi juga beban yang harus dipanggulnya. Ia seharusnya tumbuh tegak, patuh pada adat, berjalan di jalur yang sudah digariskan. Tapi jiwa Nona terlalu liar untuk dikurung. Ia percaya bahwa hidup bukanlah sesuatu yang harus diwarisi, melainkan sesuatu yang harus diciptakan.

Sebagai si bungsu, ia selalu memiliki tempat berlindung—dalam genggaman kakak-kakaknya yang menjadi tamengnya dari dunia yang sering kali terasa terlalu kaku. Namun perlindungan itu, sehangat apa pun, bukanlah sangkar tempatnya diam selamanya.

Cita-citanya sederhana. Ia ingin menjadi seperti ibunya—perempuan yang tangannya mampu menghidupkan kecantikan, mengukir pesona di wajah-wajah yang merindukan cahaya. Namun darah ningrat yang mengalir di tubuhnya menjelma dinding tinggi, menghalanginya melangkah dengan bebas.

Tapi Nona bukan gadis yang akan menyerah begitu saja. Ia menempuh studi di fakultas hukum, seperti yang diinginkan keluarganya, tapi hatinya tetap setia pada panggilannya sendiri. Dalam senyap, ia mengasah keterampilannya, menyelipkan mimpinya di antara lembaran uang yang ia kumpulkan dari pemberian kakak dan orang tuanya. Setiap kuas yang ia genggam, setiap sapuan warna yang ia oleskan, adalah caranya menyusun jalan menuju kebebasan.

Dan kini, si kecil cempluk telah bertransformasi. Ia bukan lagi gadis manja yang berlindung di balik nama besar keluarganya, bukan sekadar putri ningrat yang dibentuk oleh tradisi. Ia adalah perias yang percaya diri, perempuan yang menentukan takdirnya sendiri. Jemarinya bukan hanya sekadar menggambar keindahan, tetapi juga merajut kebebasan yang sejak dulu ia idamkan.

Picsart_25-03-29_15-54-11-598.png

Tercatat

©. 2024, Merah Merona.